Tuesday, May 22, 2012

Kadang ( aku Melupakan satu hal itu )

" Bisa jadi DIA adalah pahlawanku , penyelamat hatiku setelah sakit yang datang bertubi-tubi menghancurkan seluruh pertahanan otak, jantung, dan perasaanku. Namun , kadang aku melupakan satu hal penting itu dan dengan sengaja melupakan hal itu , hanya karena keegoisanku yang ingin memilikinya ! "

Aku takut mengetahui kenyataan yang ada, sosok tubuh proposional itu, senyum, wajah manis dan lelucon itu yang selalu aku nantikan mengisi hari-hariku, walau aku tau itu hanya cerita dongeng yang enggan menyentuh cerita akhir. Berkali-kali aku mengelak ini hanyalah ketertarikan sesaat, ini hanyalah rasa yang akan padam termakan waktu. Untuk selanjutnya aku menganggap ini hal biasa. Namun semua seolah terbantahkan, ketika tak ada lagi pesan singkatmu menghiasi inbox dihandphoneku, tak ada lagi seseorang yang rajin mendengar cerita dengan sejuta problemaku, tak ada lagi chatting di dunia maya itu , dan tak ku dengar lagi leluconmu yang menjadi senyumku. Tanpamu semua berbeda, aku benar-benar merasa kehilangan sosok penyemangatku. Sungguh , sekarang aku mempercayai retorika yang melekat di pertemuan kita, jiwaku mengalir bersama kehadiranmmu yang perlahan-lahan mengisi lalu menluap. Ada kejujuran yang mengatur setiap pertemuan kita, sungguh tak ada rekayasa dan tak ada kebohongan.


Aku menunggu hari yang sama, hari dimana kamu menjadikanku merasa sosok yang spesial, hari dimana kamu memperhatikanku dengan lembut, hari dimana kamu selalu menjadi pahlawan senyumku atas semua problemaku. Kalau aku boleh bercerita tentang perjuanganku, aku sering kali mencari-cari berita dan kabar tentangmu. Mungkin kamu tak perlu tahu, karena ini bukan perasaan penting yang harus ku besar-besarkan. Toh, aku menikmati detik-detik aku mencari bayangmu di tengah luasnya dunia maya. Sebut saja aku bodoh, karena begitu saja bisa tertarik hanya dengan waktu yang cukup instan dengan backgroundku yang termasuk sulit mencintai seseorang yang baru. Sebut saja aku abnormal, karena mulai gelisah ketika tak ada sapamu, tak ada leluconmu memenuhi inboxku. Rasa ini begitu absurd dan sulit di defenisikan karena pada kenyataannya aku tahu kamu sudah ada yang memiliki, sudah ada penyemangat dan pembangkit senyummu sejak sembilan tahun yang lalu. Kembali ke bagian awal ini bisa saja hanya perasaan sesaat, lagipula aku tak berani mengganggumu, apalagi menyapamu lebih dulu, apalagi mengetahui berita terhangat tentangmu. Jadi aku hanya bisa berdo'a untukmu, tak lebih , dan berharap semua mengalir dan berjalan seperti ini. Dan berharap perasaan bodoh ini tak meletup dan mencuat lebih kuat lagi. Tentu saja, aku tak akan bicara banyak, tak akan menyakinkanmu untuk mengenalku lebih jauh, aku juga tak akan menyadarkamu tentang sosokku. Dan aku tentu saja tak akan memaksamu untuk mengetahui sosokku yang memang bukan siapa-siapa ini.    Kamu juga tentu tak mengetahui sosokku, aku terlalu kecil dan bukan siapa-siapa bagimu. CUKUP ! Karena dalam hakikatnya akan ada yang terluka dengan perasaanku ini. dan Tujuanku memang bukan itu. Aku hanya tak ingin kegilaanku mengusik hari-harimu dengannya.

Ya, memang terlalu absurd dan ubnormal. Mungkin aku terlalu hanyut dengan perasaanku sendiri dan salah mengartikan semua kebaikanmu yang menjelma sebagai pahlawan hati. Mungkin memang terlalu egois untuk selalu mengharapkan sosokmu hadir dihariku, dan melupakan satu hal penting itu. Dan mungkin terlalu naif untuk tidak mengakui bahwasanya kamu telah menjadi peran utama dalam hati dan otakku. Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain menikmati setiap hal  yang terjadi hingga semua terbiasa dan menganggapnya tak ada. Tak ada hal yang mampu ku perjuangkan selain membiarkanmu pergi. Aku terlalu sering disakiti, mungkin itulah sebabnya perasaanku mati, mati untuk menyadari bahwa telah ada dia yang memiliki dirimu. Bahkan aku hanya mampu berdiam diri dan kadang melupakan hal penting itu hanya untuk senyumku sendiri. Maafkan aku yang mulai merasa betah dan nyaman dengan sosokmu, sumpah demi apapun aku tak ingin menyakiti siapapun dengan perasaan ini. Aku hanya ingin memanjakan hatiku sebentar dan melupakan sakit itu.

Betapapun kamu tak akan mengerti dan tentu saja dia lebih lagi !
Terimakasih untuk hadirmu , walau aku tahu ini hanya sesaat dan terus pergi, hanya dongeng yang enggan mengakhiri cerita. Sampaikan maafku untuknya, untuk sosok perempuan yang kamu cinta dari sembilan tahun yang lalu. 
^^








No comments:

Post a Comment