Wednesday, March 7, 2012

Bioetanol (cassava)

Cassava ?? are you know ?
yes, that's right , ubi kayu , itu loh yang suka di goreng dikasih sambel , ato di bakar , bisa juga direbus dikasih kelapa , ato di kasih gula merah , aseekk jadi laper .. hhaa 
selain bisa dimanfaatkan untuk isi perut byar kenyang , si ubi kayu ato cassava ini bisa di jadikan bioetanol. Gimana cara.a ?? mau tauu ? hayoo , let's goo kita ubek2 sampe tau .. hhaa :P

Ethanol adalah senyawa hidrokarbon dengan gugus hydroxyl (-OH) dengan 2 atom karbon ( C ) dengan rumus kimia C2H5OH. Nama lain ethanol itu Etil alkohol yang berupa bahan kimia yang di produksi dari bahan baku tanaman yang mengandung karbohidrat (pati) seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, sorgum, beras, ganyong dan sagu yang kemudian di populerkan dengan nama "ETHANOL". 


Proses Produksi Bio-Ethanol
Produksi ethanol/bioethanol (alkohol) dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan  melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula ( glukosa )larut air. Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan, yaitu "Hydrolisa asam dan Hydrolisa enzyme". Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air dilakukan dengan :
  • Penambahan air dan enzyme
  • kemudian dilakukan proses peragian atau fermentasi gula menjadi ethanol dengan menambahkan yeast atau ragi.
  • Reaksi yang terjadi pada proses produksi ethanol/bio-ethanol secara sederhana :
- H2O
(C6H10O5)n ------------------------------- N C6H12O6
Enzyme (pati) ----------------------------- (glukosa)

-(C6H12O6)n ----------------------------- 2 C2H5OH + 2 CO2 
yeast (ragi)
(glukosa) ---------------------------------- (ethanol)

Secara singkat teknologi proses produksi ethanol/bioethanol dibagi dalam 3 tahapan , yaitu :
>> cekidoott :)
1. Persiapan Bahan baku
Bahan baku ini dapat berupa berbagai tanaman, baik secara langsung menghasilkan gula seperti tebu (sugarcane) , gandum manis (sweetsorghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong atau ubi kayu (cassava) dan gandum (grain sorghum). Disini kita memakai atau akan memanfaatkan singkong atau ubi kayu sebagai bahan baku.a , dipilih ubi kayu karena setiap hektarnya paling tinggi dapat memproduksi bioethanol dan selain itu pertimbangan ke-ekonomian pengadaan bahan baku yang gampang dan murah. Singkong tersebut dikupas dan dibersihkan selanjutnya dihancurkan untuk memecahkan susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik.

2. Liquidfikasi dan Sakarifikasi
kandungan karbohidrat berupa pati pada bahan baku singkong dikonversi menjadi gula komplex dengan Enzyme Alfa Amylase melalui proses pemanasan pada suhu 90 drajat celcius. Pada proses ini tepung atau pati akan mengalami gelatinasi (mengental seperti jelly). Pada kondisi optimum Enzyme Alfa Amylase bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula komplex (dextrin). Proses liquidfikasi selesai ditandai dengan parameter dimana bubur berubah menjadi cair seperti sup. Sedangkan proses sarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) dengan tahapan :
  • Pendinginan bubur sampai mencapai suhu optimum
  • Pengaturan pH optimum enzim
  • Penambahan enzim glukosa amilase dan mempertahankan pH serta temperatur pada suhu 60 drajat celcius hingga proses sakarifikasi selesai.
kemudian tahap selanjutnya mencampurkan ragi atau yeast pada cairan bahan baku dan mendiamkannya dalam wadah tertutup (ferrmentor) pada suhu 27 s/d 32 drajat celciusselama 5 sampe 7 hari (fermentasi anaerob). Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung alkohol/ethanol berkadar rendah 7 - 10 % atau sering disebut cairan "BEER"

3. Distilasi
atau nama gaulnya adalah penyulingan yaitu dilakukan untuk memisahkan alkohol dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses distilasi , pada suhu 78 drajat celcius ethanol akan menguap lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 100 drajat celcius. Uap ethanol didalam distilator akan dialirkan ke bagian kondensor sehingga terkondensasi menjadi ethanol. 
Penyulingan ethanol dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Penyulingan menggunakan tehnik dan distilator tradisional (koonvensional) , dengan cara ini kadar ethanol yang dihasilkan berkisar 20 -30 %.
2. Penyulingan menggunakan tehnik dan distilator model kolom refluk (bertingkat) , dengan cara ini kadar ethanol yang dihasilkan mencapai 60-90 % melalui 2 tahap penyulingan.

4. Dehidrasi
Hasil penyulingan berupa ethanol berkadar 95 % belum dapat larut dalam bahan bakar bensin. untuk substitusi BBM diperlukan ethanol berkadar 99,6-99,8 % atau disebut ethanol kering. Untuk pemurnian 95 % diperlukan proses dehidrasi dengan cara :
  • Cara kimia dengan batu gamping
  • Cara fisika melalui proses penyerapan menggunakan zeolit sintesis.

No comments:

Post a Comment